Jumat, 16 November 2012

Buah Lei

Ini dia buah Lei!!!

Mirip dengan durian

kecil-kecil, berduri, harum walaupun tidak sebanding dengan durian.
Isi dagingnya orange. lucu...
Karena baru ketemu...hooohooho...
mumpung ada maem ajaaa.... enaaaak!!!






Senin, 12 November 2012

Ikan Goreng Isi Bungkus Pandan (Spesial untuk Abi)


Ini adalah salah satu resep spesial keluargaku. suamiku orang Sunda, gak nyangka beliau suka sekali mencoba masakan dari Aceh. Hanya saja perbedaannya disini, aku tidak menggunakan asam sunti (belimbing wuluh yang dikeringkan dengan garam) karena suamiku belum terbiasa.

Buat para umi di rumah.... coba deh praktek resep istimewa ku. Bahannya mudah, simpel, rasanya enak dan ingin mencoba lain dari yang lain, hmmm... silahkan, mari dicoba!!
Ikan Goreng Isi Bungkus Pandan

Bahan dasar :
Ikan tongkol sedang 4 ekor
Daun pandan yang besar 4 lembar

Bahan bumbu :
Cabe rawit 7 buah
Cabe merah 10 buah
Bawang merah 5 siung
Bawang putih 1 siung
Tomat hijau 1 buah atau sunti 5 buah
Jahe sedikit
Garam, gula secukupnya dan masako (boleh tidak gunakan).

Cara membuatnya :
Ikan tongkol dibersihkan lalu dibelah dari sisi punggungnya. Ingat yah jangan dari perutnya tapi dari bagian belakangnya. Belah 2 sisi. Di cuci lalu beri garam dan jeruk nipis.
Bahan bumbu di haluskan, dibumbui terus dengan garam dan masako secukupnya. Lalu isi ke punggung ikan lalu ikat dengan pandan. Fungsinya biar bahan bumbu tidak keluarg saat digoreng dan harum masakannya.
Goreng dengan minyak secukupnya. Tunggu kering dan angkat.
Oia, bumbu yang lebih jangan dibuang ya, mubazir...
Tumis dengan minyak sedikit ya. Lalu siramkan pada ikan goreng tadi. Sajikan di piring cantik. Selamat mencoba!!
  


ChiMa...

Hmm... jalan-jalan ke kota
nyari sarung bantal eh dapatnya chima
langsung dari korea lho
jd lucu-lucu modelnya

hohoohoho... boroooong!!!
buat oleh-oleh....

*chima itu bawahannya jaegori
itu lho hanbok (baju tradisional korea)


Chima Dewasa

Chima Anak-anak



Chima Dewasa


Chima Anak-anak



Chima Anak-anak


Chima Anak-anak
Chima Anak-anak

Minggu, 11 November 2012

lon leubeh lagak and seksi..... thaaam??

(tanyoeng lam hatee)
gagaaah???

(*beurayeuk su)
lon leubeh lagak and seksiii...!!
peujeut meunan?
hom, bek droen tanyoeng bak lon

(*hai peu-ubit bacut su)
ooo... kiban-kiban?
ooo... meu-en.....
kajeut meunan...
lon meu-en cit jinoe...


5 detik kemudian
(*rayeuk su)
lon khaa!!!
leubeh that kha...
lon seumeurah, rah pingan, tiiiik bu beungoh oh trok seupot (cak oneng!! peugah haba aceh gasa)
la-en lom!!
lon pileh bajee keurija
peue!!
kajeuet meunan... *peh batee

(*malee malee peugah nyoe)
hom laaah... han ek takheem... 
cit lagee nyoe meunyoe esmosi...
jinoe lon hawa that woe gampong... 

(*rayeuk su)
maaaak!!! sabaaa luah lampoh maaaak.....
hoe lon mita ngon bak uteun nyoe

hmm.... hai cutpo ngon blog lon....
kiban lon nyoe?
peujeut meunan lon tuleh nyang kon kon bak blog lon nyoe
hom haaai....
nan jih esmosi...

siat teuk ka puleh... beurayeuk saba!!!

(*ka teunang, hana esmosi le)
alhamdulillah ka glah
tengkyu ngon
lon meujak sagun ilee
@____@

Senin, 28 Mei 2012

Kembali juga akhirnya (Kisah kedua Perjalanan ke Nunukan)




    Awalnya aku ragu karena keputusan ini begitu baik kususun sebelumnya. Aku akan kembali bersamanya Juni ini. Mengadakan acara di Majalengka dengan keluarga dari Aceh yang siap mengantar. Bersama-sama berangan-angan ikut suami pergi ke kebun arbei,  berbelanja bakal baju bersama mama dan mencari bunga kesayangannya dan menikmati sepiring nasi tutug oncom bersama papa yang dibakar dan dibungkus daun pisang di pematang kampung mertuaku. Ternyata keputusan itu diluar kehendak kami. Allah telah memberikan rencana lain. Tidak ada antaran. Tidak ada acara di Majalengka. Tidak ada jalan-jalan sama sekali. Hanya ada aku, anakku dan suamiku. Akhirnya kembalilah aku kesini membawanya. Sulthan puteraku yang masih berumur 5 bulan.
    Hari itu seperti terbangun dari mimpi. Sebelum shubuh bersiap-siap berangkat ke bandara dengan terburu-buru. Mama yang tak berhenti menangis enggan melepaskan cucu kesayangannya Faaris. Cium dan peluk erat berulang-ulang sampai direlakannya kami pergi. Masih teringat dihati ini, mama begitu risau. Sampai aku terbangun sudah berada di Jakarta menaiki bus bandara sebuah maskapai yang  justru aku benci mengingatnya. Aku tidak kebagian tempat duduk. Aku dengan gendongan anakku tergoyang-goyang nyaris jatuh. Gara-gara yang lain sibuk melemaskan badan ke arahku. Aku pun memasang teriakan meminta tolong tapi siapa yang mau tahu. Semua urus dirinya sendiri. Bukan urusan orang-orang yang melihatku dengan bayi dalam keadaan berdiri. Aku masih ingat suamiku terduduk di lantai dengan kaki terlipat sebelah karena cepat-cepat menyambut bayiku yang hampir jatuh denganku. Benar-benar menjengkelkan orang-orang yang memandangku. Apa mereka tidak tahu aku mendoakan mereka?? Astaghfirullah...
      Tiba di Jakarta jam 10, berangkat lagi jam 14.00, untung saja dalam 5 menit waktu berangkat anakku sudah minta ganti diapers karena pup. Berarti sekarang bayiku sudah mulai fresh kembali siap berangkat menuju bandara Sepinggan di Balik Papan. Belum berakhir juga. Sesampainya di Balik Papan, kami harus menunggu setengah jam lagi di pesawat untuk penerbangan selanjutnya menuju Tarakan. Berarti ada sejam lagi perjalanan kami. Kalau ditotal ada 6 jam lebih bayiku terbang. Jam 7 malam, kalau di Aceh masih jam 6 sore akhirnya kami sampai di bandara Juwita. Turun tunggu bagasi, naik taksi cari penginapan. Mungkin karena liburan, penginapan pada penuh semua. Sampai mau tidak mau kami mengambil kamar single, ada televisi dan AC juga. Faaris sudah terbiasa dingin sejak lahir. Alhamdulillah kami bisa istirahat, walaupun malamnya Faaris ribut rewel menangis seiya-iyanya kelelahan di perjalanan. Sepertinya kontak bathin dengan neneknya di Aceh. Suasananya berbeda. Lama juga baikannya. Begitu minum obat, Faaris akhirnya dapat tidur pulas. Alhamdulillah semua dapat diatasi karena aku sekarang sudah tidak sendiri lagi. Ada suami tercinta yang menemani kami dan semoga aku terus seperti ini.
      Keesokan harinya kami sudah di pelabuhan. Tidak naik pesawat lagi. Karena bagasi kami sangat banyak. Pesawat kecil hanya menerima 10kg/penumpang. Kalau kelebihan bagaimana ya?  Tidak sangguplah... biayanya besar. Masih banyak yang harus kami persiapkan. Selama 3 jam perjalanan kami menyeberangi lautan. Mulai dari melewati pulau-pulau, sampai beberapa kali bertemu dengan speedboat kecil-kecil lainnya. Bahkan nelayan juga banyak yang mencari ikan. Ada juga yang sibuk melihat rumput lautnya. Disini kapal, perahu banyak sekali. Akhirnya, 3 jam berlalu. Faaris juga Alhamdulillah sangat kooperatif. Menikmati sekali perjalanannya dengan bobok pulas. Sekarang saatnya turun. Kami mengambil tempat pemberhentian di Sedadap. Wilayah kantor dan rumahnya kami. Kalau teman-teman di Aceh, bolehlah bayangkan seperti kota Jantho. Cuma bedanya disini daerah pesisir dekat laut. Ayo coba bayangkan jadi diriku!! Abi, suamiku tangannya penuh dengan barang bawaan kami. Sedangkan aku cukup diberi tanggung jawab memegang Faaris. Sambil ikut langkah suamiku dengan gendongan pemberian Cutkak Tie, tangan kiri pegang erat-erat bayiku Faaris, tangan kananku pegang erat-erat perahu selangkah-selangkah sampai kira-kira dapat tangga. Hmm... jalan-jalan dipinggir kapal menyeberangi perahu yang satunya lagi itu yang paling menakutkan. “Yang ini boleh dipijak?”, tanyaku penasaran. “Jangan! Yang ini”, jawab orang yang sama sekali aku tidak melihat mukanya dengan logat Papuanya. Mataku sibuk melihat langkah kemana harus berjalan. Wajar tak melihatnya. Bagaimana? Mau nangis ya janganlah. Mau menjerit ya jangan juga. Mau ketawa, ya itu juga jangan. Ya akhirnya jalan aja. Yang lihat ramai. Tapi mana bisa dibantu, mau tidak mau harus sendiri. Paling diingatkan saja, “Hati-hati bu... “, wkwkwk....  Hmm,,, baiklah saudara-saudara. Inilah Kalimantan kalau ikutkan jalan laut. Resiko kami. Apalagi aku tidak mau bayiku dipegang orang lain. Ini pulau orang!! Hilang anak bisa gila aku... Akhirnya mimpi buruk selesai. Sekarang bisa duduk santai sambil blog sama si Faaris. Jangan terlalu dimasukkan dalam hati cerita ini, kami baik-baik saja disini. Mama, Papa, keluarga dan teman-teman mohon doanya terus...  biar suamiku segera dimutasikan dari sini... 

Jumat, 06 April 2012

Gulai Kepiting Manis (Bieng Mameh Umi)


 
Resep ini adalah makanan favorit keluarga. Hmm, bayangkan aja kalau sudah masuk musim kepiting. Apalagi dapat kepiting yang berisi banyak telurnya. Huaa… pasti manis kuahnya dan nikmat… :P
Ayo, umi-umi buruan masak buat keluarga!!

Bahan :
5 kepiting besar
Kacang panjang potong panjang
Bawang merah rajang

Bumbu halus :
5 siung bawang merah
1 siung bawang putih
5 cabang merah
3 cabai rawit (tergantung selera)
3 buah sunti
3 sdm kelapa gongseng
Jahe
1 sdm ketumbar gongseng
1 sdm ketumbar mentah
1 sdm cabai kering
Seikat daun temurui
Sereh
Santan

Cara Membuatnya :
1. Sebelum menghidupkan kompor. Kepiting dibelah menjadi dua bagian tanpa melepaskan tempurungnya (biar kelihatan manis) lalu digarami. Masukkan ke wajan aduk dengan kelapa gongseng, ketumbar mentah, ketumbar halus dan cabai kering.
2. Masukkan bumbu halus
3. Letakkan wajan dikompor gas lalu masak kepitingnya sambil di aduk.
4. Setelah warna kepiting sudah cantik dan mengeluarkan minyak, baru masukkan santan dan kacang panjang.
5. Tunggu sampai matang

Selamat menikmati… J

Rabu, 29 Februari 2012

Hiburlah dirimu dengan BERSABAR


Nabi SAW bersabda :

“Bahwasanya dimukamu kelak ada semacam jalan di atas bukit yang tidak mungkin dijalani oleh mereka yang berbeban berat, kecuali penuh kesulitan luar biasa, jalan itu adalah yang diderita setelah mati, dari kubur, hisab, shirath dan mizan. Siapa mengetahui secara yakin dengan terjadinya perkara-perkara ini, pasti beban beratnya dikurangi dengan amal taat kepada Allah dan menjauhi segala laranganNya, serta mengurangi citra harta benda. Sebab dengan demikian, maka tercapailah tingkat teratas dan tambahnya pahala”.

Perhatikanlah juga hadist dari Anas ra, sabdanya: “Para fuqara menyuruh salah satu utusan untuk menghadap Rasul SAW. Iapun berkata: “Ya Rasul, kedatanganku kesini adalah membawa misi/tuntutan kawan-kawan orang fakir”, lalu iapun disambut dengan keramahan oleh beliau SAW., sabdanya: “Selamat datang berjumpa denganmu dan mereka yang telah menyuruhmu, serta kedatanganmu dari mereka yang dicintai oleh Allah SWT. Ia pun mulailah menyampaikan tuntutan mereka dengan katanya: “Ya Rasul, orang-orang fakir telah berkata: “Bahwa orang-orang kaya itu telah menggondol kebaikan seluruhnya, mereka mampu menunaikan ibadah haji, sedang kami tidak, mereka dapat membebaskan budak, sedang kami tidak, mereka dapat bersedekah, sedang kami tidak, dan ketika sakit mereka suruh dengan kelebihan harta mereka sebagai tabungan”.

Maka Beliaupun bersabda: “Sampaikan dariku untuk kawan-kawanmu, bahwa: “Siapa diantaramu yang bersabar dan beriman penuh keikhlasan, baginya 3 perkara yang tidak dimiliki oleh orang-orang kaya, yaitu:

1.  Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang terbuat dari yakut/intan merah, para penghuni surga memandangnya seperti penduduk dunia memandang bintang-bintang, padahal yang dapat memasukinya hanyalah para Nabi, para pejuang yang mati syahid dan para mukmin yang fakir.
2.  Para mukmin yang fakir memasuki sorga, jauh sebelum mereka yang kaya terpaut setengah hari atau ±500 tahun masa dunia. Dan Nabi Sulaiman bin Daud as. Memasuki surga, jauh sesudah para Nabi terpaut 40 tahun, akibat kerajaan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya.
3.  Ketika orang fakir membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, maka ia memperoleh sesuatu yang diperoleh orang-orang kaya, sekalipun membelanjakan 10.000 dirham, demikian pula amal-amal baik seluruhnya.

Kemudian pulanglah utusan para fuqara itu kepada kawan-kawannya dan menyampaikan kabar gembira dari Rasul SAW. Sahut mereka: “Kami telah lega/ridho ya Allah”. (TAMBIHUL GHAFILIN)

  “Maha Suci Allah dan untuk-Nya pujian. Dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”

 “Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar”.